SEKADAU, Pojokkalimantan.com - Bupati Sekadau Aron mendorong sekolah di Kabupaten Sekadau menjadi pelopor dalam membangun kebiasaan mengurangi dan memilah sampah sejak dari lingkungan pendidikan.
Langkah tersebut dilakukan dengan meminta seluruh satuan pendidikan mulai dari SD, SMP, SMA hingga SMK dan sederajat menerapkan pengelolaan sampah secara lebih teratur dan bertanggung jawab.
Arahan itu tertuang dalam surat Bupati Sekadau tertanggal 31 Agustus 2026 tentang Pengelolaan Sampah di Lingkungan Sekolah yang ditujukan kepada seluruh kepala sekolah se-Kabupaten Sekadau.
Aron meminta pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas kebersihan. Seluruh warga sekolah, mulai dari guru, siswa hingga pengelola kantin, diharapkan ikut terlibat dalam mengurangi dan memilah sampah.
Salah satu langkah yang ditekankan adalah pemilahan sampah berdasarkan jenisnya. Sampah organik, nonorganik, residu serta bahan berbahaya dan beracun (B3) diminta ditempatkan pada wadah yang berbeda.
“Melakukan pemilahan sampah dari sekolah dengan memisahkan jenis sampah organik, nonorganik, residu dan sampah B3 pada wadah terpisah,” ujar Aron pada 8 September 2026.
Menurutnya, pemilahan sejak dari sumber akan memudahkan proses pengelolaan sampah sekaligus mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat penampungan.
Sekolah juga didorong untuk mengolah sampah organik secara mandiri. Sisa makanan, sayuran dan buah-buahan dapat dimanfaatkan kembali, antara lain sebagai pakan ternak maupun kompos.
“Sampah organik seperti sisa makanan, sisa sayur-sayuran dan sisa buah-buahan supaya dikelola secara mandiri baik sebagai pakan ternak maupun kompos,” ucapnya.
Sementara sampah anorganik seperti botol plastik, kaleng dan kardus dapat dikelola melalui kerja sama dengan bank sampah maupun pihak pengepul.
Untuk sampah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali, sekolah diminta menyediakan dan mengelola Tempat Penampungan Sementara (TPS). Namun, TPS tersebut hanya diperuntukkan bagi sampah residu.
Pemkab Sekadau berharap penerapan kebijakan tersebut tidak berhenti pada persoalan kebersihan lingkungan sekolah. Lebih jauh, sekolah diharapkan menjadi tempat bagi siswa untuk belajar menerapkan pola hidup yang lebih peduli terhadap lingkungan.
Kebiasaan memilah, mengurangi dan memanfaatkan kembali sampah yang dibangun sejak di sekolah diharapkan dapat terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, upaya pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada lingkungan sekolah, tetapi juga membentuk kesadaran lingkungan di tengah masyarakat.
Reporter: Lova


